Pertanyaan diatas adalah yang kadang terbersit ketika mengingat keberadaan saya sekarang. Jika memang saya benar pemuda Indonesia, sudah sejauh mana saya berkontribusi untuk negara? Disaat yang bersamaan banyak kampanye aku cinta Indonesia, kesatuan Indonesia, dan semacamnya. Saya merasa tidak cukup untuk menyatakan saya bangga terhadap Indonesia tanpa ada wujud dari sikap yang nyata.
Jadilah angan saya ada disetiap kesempatan yang muncul untuk mewakili Indonesia. Sayangnya, saya tidak cukup jenius untuk mengikuti olimpiade matematika atau fisika. Bukan juga atlet yang mampu mengangkat bendera Indonesia di setiap raihan medali pada Sea Games atau Asian Games. Namun kesempatan untuk mewakili Indonesia hadir setelah saya mengetahui adanya program pertukaran pemuda antar negara yang diadakan oleh Kementrian Pemuda dan Olahraga.
Perasaan tersebut tidak muncul tiba - tiba, kawan. Sebelumnya saya beberapa kali menjadi bisu melihat bongkahan surgawi negeri ini lewat petualangan saya dengan teman - teman. Masuk menjelajahi tempat yang saya yakini sebagai tanah air.
Semakin berpetualang, semakin saya mengharu biru bersama Indonesia. Puncaknya ketika saya melakukan solo backpacking keliling asia tenggara setelah lulus kuliah. Betapa rasa cinta terhadap Indonesia itu semakin tumbuh, seiring melihat perbedaan jati diri kebangsaan dengan masyarakat yang saya temui waktu itu. Dan kebanggaan itu tumpah ketika saya menyaksikan pertandingan final bulu tangkis di Sea Games 2009 Laos. Menatap merah putih sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya, membuat saya berpikir : "Kapan giliranku menjadi tokoh utama di bawah bayang merah putih?".
Seleksi yang saya ikuti adalah untuk menentukan perwakilan dari Propinsi Jawa Barat. Saya merasa beruntung karena publikasinya dilakukan secara online, sehingga saya dapat mengikutinya walau hanya sebagai pemuda biasa (baca: bukan karena anak pejabat atau pertimbangan kekerabatan dengan Menpora). Sehingga sepulangnya dari perjalanan keliling asia tenggara, saya memperjuangkan peluang tersebut untuk mengikuti satu demi satu tahap seleksi.
Apa benar saya pemuda Indonesia?
Kawan, saat itu saya memutuskan untuk menguji jawabannya. Disaat yang bersamaan dengan proses seleksi, saya lebih memilih bekerja di sebuah national oil&gas company yang sedari awal mengizinkan saya mengikuti program ini, walau saya telah terlebih dahulu ditawarkan untuk bekerja di sebuah multinational oil&gas company yang tidak mengizinkan saya mengikuti program ini.
Apa benar saya pemuda Indonesia?
Sampai tulisan ini ditulis, saya pun masih dalam tahapan pembuktian. Yang berikutnya saya akan ceritakan kepadamu adalah bagaimana saya akhirnya melewati masing - masing tahapan seleksi propinsi. Melangkah lebih dekat untuk menjadi pemuda merah putih.
Jadilah angan saya ada disetiap kesempatan yang muncul untuk mewakili Indonesia. Sayangnya, saya tidak cukup jenius untuk mengikuti olimpiade matematika atau fisika. Bukan juga atlet yang mampu mengangkat bendera Indonesia di setiap raihan medali pada Sea Games atau Asian Games. Namun kesempatan untuk mewakili Indonesia hadir setelah saya mengetahui adanya program pertukaran pemuda antar negara yang diadakan oleh Kementrian Pemuda dan Olahraga.
Perasaan tersebut tidak muncul tiba - tiba, kawan. Sebelumnya saya beberapa kali menjadi bisu melihat bongkahan surgawi negeri ini lewat petualangan saya dengan teman - teman. Masuk menjelajahi tempat yang saya yakini sebagai tanah air.
Semakin berpetualang, semakin saya mengharu biru bersama Indonesia. Puncaknya ketika saya melakukan solo backpacking keliling asia tenggara setelah lulus kuliah. Betapa rasa cinta terhadap Indonesia itu semakin tumbuh, seiring melihat perbedaan jati diri kebangsaan dengan masyarakat yang saya temui waktu itu. Dan kebanggaan itu tumpah ketika saya menyaksikan pertandingan final bulu tangkis di Sea Games 2009 Laos. Menatap merah putih sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya, membuat saya berpikir : "Kapan giliranku menjadi tokoh utama di bawah bayang merah putih?".
Seleksi yang saya ikuti adalah untuk menentukan perwakilan dari Propinsi Jawa Barat. Saya merasa beruntung karena publikasinya dilakukan secara online, sehingga saya dapat mengikutinya walau hanya sebagai pemuda biasa (baca: bukan karena anak pejabat atau pertimbangan kekerabatan dengan Menpora). Sehingga sepulangnya dari perjalanan keliling asia tenggara, saya memperjuangkan peluang tersebut untuk mengikuti satu demi satu tahap seleksi.
Apa benar saya pemuda Indonesia?
Kawan, saat itu saya memutuskan untuk menguji jawabannya. Disaat yang bersamaan dengan proses seleksi, saya lebih memilih bekerja di sebuah national oil&gas company yang sedari awal mengizinkan saya mengikuti program ini, walau saya telah terlebih dahulu ditawarkan untuk bekerja di sebuah multinational oil&gas company yang tidak mengizinkan saya mengikuti program ini.
Apa benar saya pemuda Indonesia?
Sampai tulisan ini ditulis, saya pun masih dalam tahapan pembuktian. Yang berikutnya saya akan ceritakan kepadamu adalah bagaimana saya akhirnya melewati masing - masing tahapan seleksi propinsi. Melangkah lebih dekat untuk menjadi pemuda merah putih.
Arozak Salam.
Senin, 20 September 10.37 Am.
ga salah.... vote rozak!!!
BalasHapushahahahhah
jangan lupa pulang ya begitu programnya beres..
BalasHapuspcmi jabar butuh kalian, Indonesia butuh kalian.
sukses! :)
anti